Thursday, 25 October 2012

Umrah Qadha

Sumber : Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy

UMRAH QADHA

Pada bulan Dzul Qaidah tahun ke-7 Hijrah Nabi saw berangkat menuju Mekkah menunaikan umrah qadha. Bulan Dzul Qaidah adalah bulan dilarangnya Rasulullah saw masuk Mekkah oleh kaum Musyrikin pada tahun sebelumnya. Ibnu Sa‘ad menyebutkan di dalam Thabaqatnya bahwa orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan dan tahun ini bersama Rasulullah saw sebanyak 2000 orang. Mereka terdiri dari ahlul Hudaibiyah dan orang-orang yang bergabung kepada mereka. Seluruh Ahlul Hudaibiyah tidak ada yang ketinggalan kecuali yang mati atau syahid di Khaibar.

Ibnu Ishaq berkata : Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi saw dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata: Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah saw dan para sahabatnya. Setibanya di Mekkah, Rasulullah saw langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap :
"Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhirat-Nya.“ Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah. Dalam thawaf ini beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata : Orang-orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum, Rasulullah saw melakukan hal itu sekedar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wadah Rasulullah saw juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah.

Dalam kesempatan ini Nabi saw juga melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti al-Harits. Dia katakan bahwa Nabi saw melangsungkan pernikahannya dalam keadaan ihram (akad nikahnya saja). Tetapi riwayat lain mengatakan setelah tahallul. Orang yang menikahkan adalah Abbas bin Abdul Muthallib, suami Ummul Fadhal saudaranya Maimunah.

Setelah tiga hari Rasulullah saw tinggal di Mekkah (waktu yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah), orang-orang Musyrik datang kepada Ali seraya berkata : Katakan kepada temanmu (Nabi saw) agar segera meninggalkan Mekkah karena waktunya telah habis. Akhirnya Nabi saw keluar meninggalkan Mekkah.

Rasulullah saw menyelenggarakan walimah (pesta) pernikahannya dengan Maimunah di tengah perjalanan menuju Madinah, di sebuah tempat bernama "Sarif“ dekat Tan‘im. Kemudian pada bulan Dzul Hijjah berangkat ke Madinah.

Beberapa Ibrah :

Umrah ini dianggap sebagai penunaian janji Allah kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya bahawa mereka akan masuk Mekkah dan thawaf di Ka‘bah. Telah anda ketahui bagaimana Umar pernah bertanya kepada Rasulullah saw pada waktu perdamaian Hudaibiyah: "Tidakkah engkau pernah menjanjikan bahwa kita akan thawaf di Ka‘bah ?“ Nabi saw menjawab: “Ya, tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan melaksanakannya tahun ini?“. Umar mengakui: “Tidak“. Nabi saw menegaskan: “Sesungguhnya kamu akan datang ke sana dan thawaf di Ka‘bah.“

Ini adalah penunaian janji Rasulullah saw tersebut. Di samping Allah juga mengingatkan kepada para hamba-Nya akan penunaian janji ini di dalam firman-Nya :
"Sesungguhnya Allah pasti membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat“. (QS A- Fath 27)

Selain itu Umrah ini mengandung erti pengkondisian dan pendahuluan bagi "kemenangan besar“ (al fat-hul-kabir) yang datang sesudahnya. Pemandangan berupa sejumlah besar dari kaum Muhajirin dan Anshar yang mengelilingi Rasulullah saw dengan penuh semangat dan thawaf , sa‘I dan seluruh upacara pelaksanaan ibadah umrah, yang disaksikan oleh kaum Musyrikin ini punya pengaruh yang sangat mendalam terhadap jiwa mereka. Mereka telah dicekam rasa takut terhadap kaum Muslimin setelah dikejutkan oleh kenyataan yang sama sekali bertentangan dengan gambaran yang selama ini mereka percayai tentang kaum Muslimin. Digambarkan bahwa kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan pemalas akibat penyakit panas dan jeleknya cuaca Yatsrib, Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kaum Muslimin berlari-lari kecil di sekitar Ka‘bahdan di Mas‘a (tempat Sa‘I), sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Itukah mereka yang kalian sangka loyo akibat penyakit panas ?! … Mereka lebih gagah dari ini dan itu“.

Tak pelak lagi bahawa umrah ini dengan sedemikian rupa pelaksanaannya memiliki pengaruh besar dalam jiwa kaum Musyriin menjadi "persiapan“ untuk "Fathu Makkah“ (penaklukan Mekkah) secara damai sebagaimana akan anda saksikan.

Pelajaran yang lain yang dapat kita ambil dari umrah ini diantaranya :
Pertama :
Ketika thawaf disunnahkan menampakkan lengan dan berlari-lari kecil pada tiga putaran yang pertama, karena mengikuti Rasulullah saw. Hal ini disunnahan bagi thawaf yang dilanjutkan dengan Sa‘i. Demikian pula disunnahkan berlari-lari kecil antara dua tanda di Mas‘a (tempat sa‘I antara Shafa dan Marwah), tetapi tidak disunnahkan bagi wanita.

Kedua, Sebagian fuqaha‘ membolehkan akad nikah dalam keadaan ihram haji atau ihram umrah, berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw melaksanakan akad nikahnya dengna Maimunah dalam keadaan ihram.

Tetapi jumhur fuqaha‘ tidak membolehkan seorang yang sedang ihram untuk melangsungkan akad nikah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Hanafiah berpendapat bahwa seorang yang sedang ihram tidak boleh mewakili akad nikah untuk orang lain yang tidak dalam keadaan ihram.

Demikianlah, Rasulullah saw telah menunaikan empat kali umrah dan satu kali haji. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw menunaikan empat kali umrah yang semuanya dilaksakanan pada bulan Dzul Qaidah. Kedua umrah pada tahun berikutnya di bulan Dzul Qaidah. Ketika, umrah dan Ji‘ranah dimana dibagikan pampasan Hunain di bulan Dzul Qaidah. Keempat, umrah bersama hajinya.

4 comments:

  1. Assalamualaikum wbth..
    hujan lebat disini.....
    Pekabar...?

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum wbth..
    hari jumaat yang damai disini..
    Pekabar..?

    ReplyDelete

Sebarang komen/cadangan/teguran/pendapat dipersilakan ..
Dilarang mencarut/meletakkan perkataan yang tidak sepatutnya ..
Terima kasih ..

All Rights Reserved. Knowledge sharing. Credit to all bloggers. Thank you.